Jumat, 21 Desember 2012

Pergeseran Paradigma Perencanaan Kota dan Daerah di Dunia

Pola pergeseran paradigm perencanaan kota dan daerah dapat diterangkan melalui kacamata perkembangan dunia filsafat.
1.      Theosentrisme (abad 12-18)
Pada awalnya ilmu perencanaan banyak dipengaruhi oleh paham theosentrisme yang berpusat pada Tuhan dan raja. Tata ruang kota pada saat itu mencerminkan kekuasaan raja dan tokoh agama. Hal ini dapat ditelusuri dari model tata ruang yang menempatkan pusat pemerintahan sekaligus atau berdekatan dengan pusat keagamaan.
2.      Posivistik (1917-1980)
Pada awal tahun 1917 banyak terjadi pemberontakan terhadap kekuasaan raja dan dominasi tokoh agama. Beberpa peristiwa penting yang terjadi pada saat itu ialah revolusi perancis, revolusi industry, dan kemunculan konsep kepercayaan baru sebagai koreksi terhadap kepercayaan atau agama dominan sebelumnya. Masa ini sering dikenal sebagai masa berkembangnya paham Positivistik. Revolusi industry menandai kejayaan para engineering. Perencanaan masih bersifat City planning sedangkan konsep regional planning belum berkembang. Pada masa ini perencanaan masih dalam bentuk Blue print  yang dikerjakan oleh para teknisi dan insinyur perkotaan. Konsep perencanaan yang berkembang cenderung bersifat fisik dan teknis, infrastruktur, dan master plan. Konsep seperti ini banyak digunakan oleh Negara Belanda dalam membangun negaranya maupun daerah jajahan.
3.      Rasionalistik (1980-sekarang)
Model perencanaan posivistik dinilai terlampau teknis dan hanya mementingkan pembangunan fisik semata. Oleh karena itu muncul konsep rasionalistik sebagai kritik terhadap model perencanaan positvistik. Model perencanaan rasionalistik menelurkan konsep pendekatan top-down dalam pembangunan. Pada masa ini science atau ilmu pengetahuan berkembang pesat. Konsep pembangunan juga turut bergeser dari sebelumnya City planning (Eropa) menjadi urban planning, regional planning, rural planning dan society-based-planning (USA). Kritik konsep rasionalistik terhadap posivistik mencakup paham bahwa perencanaan bukan sekedar bidang fisik tetapi juga mencakup perencanaan sosial, ekonomi dan sektoral. Indonesia melalui Kemendagri turut mengadopsi konsep ini melalui perencanaan top-down yang diterapkan pada jaman orde baru hingga sekarang.
4.      Fenomenologi
Pada jaman sekarang muncul lagi satu konsep baru yang menilai konsep perencanaan rasionalistik kurang efisien dan tepat guna. Model perencanaan Top-down dinilai hanya mementingkan kebutuhan sebagian kalangan tanpa menangkap aspirasi dan kritik dari kalangan masyarakat umum. konsep yang dimaksud ialah paham fenomenologi yang menitik beratkan pada perencanaan yang merespon fenomena yang terjadi ditengah masyarakat. Bersamaan dengan itu berkembang pula model atau pendekatan perencanaan  yang berlandaskan pluralism seperti community based planning, parcitipatory planning, gender planning, CSR corporate service, dan community action planning.
Jadi, perkembangan perencanaan dapat dilihat sebagai proses penemuan model perencanaan yang tepat bagi masayarakat sesuai dengan jaman dan kebutuhan masing-masing(thomas)..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar